15
Sep
05

Kreatif

Kreatif, sebuah kata yang sangat saya butuhkan. Terus terang, entah
sejak kapan, sering banget kehabisan ide atau gagasan untuk ngelakuin
sesuatu (Mungkin sudah sejak awal duduk di bangku pendidikan ya ?). Mau
ngelakuin gini, bengong dulu, bingung mau mulai dari mana dan
bagaimana. Ujung-ujungnya jadi pesimis, skeptis dan males… hehehehe :P

Terus terang saya sadari, akhir-akhir ini saya mengalami
peningkatan kebutuhan akan kreatifitas. Ya, kreatifitas sebagai
pemecahan masalah. Sementara sumber kreatifitasnya sendiri krisis. Ha !
Ini masalah lagi, mbulet ae. Memang saya bukan penulis, pelukis,
seniman, usahawan maupun artis. Tapi kreatifitas tetep butuh donk !
Tentunya dalam wujud yang lain, yang sesuai dengan kodrat dan kondisi
saya hehehehee P.

Tapi bentar dulu… kreatif itu apaan sih ? Saya sendiri juga ndak tahu hehhee… D Selama ini cuman ikutan latah make kata-kata tersebut.

Browsing sana-sini,… akhirnya nemu beberapa butir ungkapan para
begawan, para master, dan para empu. Lumayaaan… sementara ndak usah
modal beli buku P

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta. Oleh segelintir orang
Kreativitas dianggap sebagai suatu kemampuan untuk menghasilkan gagasan
baru atau wawasan yang segar. Kreatifitas adalah jantung dari inovasi.
Tanpa kreatifitas tidak akan ada inovasi. Sebaliknya, semakin tinggi
kreatifitas, jalan ke arah inovasi semakin lebar pula.

Untuk jadi kreatif ternyata tidak cukup berbekal skill dan kemampuan
kreatif belaka. Kreatifitas juga membutuhkan kemauan atau motivasi.
Mengapa? Sebab memiliki ketrampilan, bakat, dan kemampuan kreatif tidak
otomatis membuat seseorang melakukan aktivitas yang menghasilkan output
kreatif. Ia bisa memilih tidak melakukan aktivitas kreatif. Jadi faktor
dorongan atau motivasi sangat penting di sini. Beda antara orang
kreatif dan yang tidak hanyalah pada kemampuan orang kreatif dalam
menghalau aral (penghalang) kemampuan kreatifitas.

Ooohhh ternyata :

  • semua orang memiliki karunia yang menakjubkan dalam hal kreatifitas.
  • kreatifitas butuh : motivasi

Gitu toh ?

Ada yang lain ? Iya, ada beberapa jenis kendala yang menumpulkan kreatifitas :

  • pola pikir reproduktif yang artinya jika dihadapkan pada masalah, seseorang
    akan cenderung merespon dengan cara yang sama
    , mengulang pola pikir atau cara
    pemecahan lama yang sudah terbukti berhasil. Itu sebabnya pola pikir reproduktif
    menjadi salah satu penyebab utama kekakuan berpikir, dan dengan demikian menjadi
    aral kreatifitas. Seringkali, pola pikir reproduktif berlangsung secara
    mekanikal atau nyaris otomatis. Dan ini terkondisikan oleh hasil pendidikan
    model skolastik atau lingkungan yang menuntut cara-cara berpikir praktis dan
    sangat terstruktur. Sampai pada saat kita mentok dalam upaya pencarian variasi
    solusi, di titik itulah baru kita sadari keterbatasan pola pikir reproduktif.
  • paradigma anti konflik, mereka dengan paradigma ini umumnya kurang menyukai
    perubahan
    , atau bahkan membenci perubahan yang lebih dianggap sebagai ancaman
    terhadap kemapanan daripada dipersepsi sebagai peluang perbaikan. Padahal,
    kreatifitas seringkali merupakan aktivitas yang melampaui kemapanan. Kreatifitas
    dapat terlahir atau terstimulasi melalui benturan, persinggungan, percampuran,
    dan penyatuan berbagai unsur yang berbeda atau bahkan saling bertentangan.
  • turunan dari paradigma adalah keyakinan yang bisa menjadi pendorong atau
    justru menjadi faktor penghambat kreatifitas
    .Kreatifitas sering memunculkan
    output baru yang berlawanan atau bahkan mengalahkan hal lampau, mengalahkan
    senioritas, mengalahkan pengalaman, atau mengalahkan hirarki. Sampai batas mana
    individu bisa mengelola aral ini, sampai pada batas itulah ia bisa menyediakan
    ruang kreatifitas bagi dirinya sendiri.
  • rasa takut membuat seseorang cenderung enggan mewujudkan potensi dan
    mengembangkan kreatifitasnya.
  • motivasi rendah, yang membuat orang cenderung kurang menyukai kerja keras,
    kurang tekun, dan enggan memanfaatkan kemampuan kreatifnya untuk memecahkan
    tantangan.
  • kebiasaan, Misalnya; suka menghindari masalah (bukannya mencari solusi), malas
    berpikir, menghindari tantangan, menghindari tanggung jawab, menghakimi ide-ide
    baru, berpuas diri, menghindari hal-hal imajinatif, dll. Dihadapkan pada
    kebiasaan-kebiasaan maka tantangan kreatifitas tidak ada artinya.
  • situasi sosial yang kurang apresiasif atau bahkan mengekang. Pendidikan
    tradisional misalnya, sering dianggap sebagai salah satu produk sosial yang
    kurang memberi tempat bagi kreatifitas.
  • organisasi yang konservatif biasanya kurang merangsang kreatifitas. Sebut pula
    batasan-batasan seperti hirarki, aturan yang tidak fleksibel, ketiadaan wadah
    bagi ekspresi kreatif, egoisme antar departemen, buruknya komunikasi, atau
    situasi organisasi yang sangat terpolitisasi.
  • faktor gaya kepemimpinan juga berpengaruh secara signifikan terhadap proses
    kreatifitas
    . Jika pemimpin organisasi kurang memberi ruang kebebasan, kurang
    bisa momotivasi, tidak mampu memberi tantangan, tidak mampu mengelola hasrat
    kreatif, kurang memberi penghargaan, tidak memberi kepercayaan, tidak mendukung,
    dan tidak mampu menciptakan lingkungan yang kondusif, maka kreatifitas
    individu-individu dalam organisasi jelas akan terhambat. Seberapa kreatif
    individu- individu dalam tim, namun jika tidak didukung oleh kemampuan manajemen
    kreatif pemimpinnya, hasilnya juga kurang menggembirakan.

Well, jadi kalo saya bisa ngatasin semua itu, harusnya kreatifitas lancar-lancar
donk ? Ya… moga-moga aja… (iyo nek pas gak gendeng… D ). Kesimpulannya
harus ngelawan itu semua, ya gak ? Yak opo rek ? Paling gak saya ada ’senjata’
buat ngelawan ‘kemiskinan kreatifitas’ =))

Referensi :




0 Responses to “Kreatif”


  1. No Comments

Leave a Reply




September 2005
M T W T F S S
« May   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930