Soekarno Hatta ! Akhirnya tiba juga, setelah satu jam lima menit menempuh penerbangan Surabaya-Jakarta. Doel
melangkahkan kakinya keluar pintu pesawat menuju garbarata yang disediakan. Beberapa penumpang pesawat dengan setelan jas
terlihat bergegas, terburu-buru melewatinya. Mungkin mereka eksekutif instansi atau perusahaan yang tengah bertugas. Beberapa
lainnya terlihat santai seolah tidak memiliki jadwal yang mendesak. Sisanya asyik dengan handphone dan barang-barang
bawaannya.
Doel mencangklong ransel hilfiger kecilnya. Melangkah dengan malas melewati pramugari-pramugari yang berdiri berjejer
sembari tersenyum. Mereka sibuk mengucapkan selamat jalan kepada para penumpang yang melangkah keluar.
Dari jendela garbarata Doel sempat melirik pesawat yang tadi membawanya, sebuah Boeing 737-400. Model yang sering
dinaikinya bila ia mendapat tugas traveling. Dibelakangnya terlihat pemandangan pesawat diparkir rapi. Ada juga yang tengah
take off. Doel tersenyum tipis memandangnya. Waktu kecil dulu ia pernah punya cita-cita jadi pilot hehehe…
Melewati beberapa jalur di bandara tersebut, sampailah Doel di bagian terluar bandara. Beberapa taxi tengah parkir
dalam format yang rapi.
Doel menghampiri salah satunya, sebuah taxi dengan warna biru dengan logo bangau.
Sang supir terlihat santai didalam. Ia tengah membaca-baca majalah. Sekilas Doel melirik cover depannya, Majalah Swa.
"Keren juga nih Bapak, bacaannya majalah bisnis", nyengir lebar Doel dalam hati.
"Kosong, Pak ?"
Si Bapak menutup majalah, mengakhiri bacaannya. Wajah sumringahnya menyapa Doel dengan ramah, "Iya nih Mas..". Ia
lalu keluar dan membukakan pintu untuk Doel.
Surprise Doel dibuatnya….Namun dengan cuek dia menepiskan rasa ’surprise’ tersebut. Taxi ini terlihat bersih dan
wangi. Beberapa majalah dan koran terlihat diatur rapi ditempatnya. Majalah-majalah dan koran-koran ekonomi, satu-dua
terlihat dalam terbitan mancanegara. Dipojok jendela belakang terlihat beberapa air mineral gelasan teratur pula dengan rapi.
"Kemana ini, Mas ?"
"Eh,.." buyar pengamatan Doel..,"Tanah Abang, Pak"
Dengan anggun taxi tersebut berjalan perlahan keluar bandara.
"Dari Surabaya nih, Mas ?" Si Bapak mencoba mengakrabkan suasana.
"Iya,.. biasalah"
"Wah.. kebetulan saya pernah juga tinggal di Surabaya beberapa lama…" Si Bapak mulai bercerita tentangnya.
Doel hanya mendengarkan saja. Diam-diam ia sedikit heran dengan apa yang di dengarnya. Cara si Bapak bercerita,
bahasa dan pilihan kata yang digunakan terasa lebih halus dari orang kebanyakan. Beberapa kali terlontar istilah-istilah
dalam bahasa Inggris yang di ucapkan dengan lafal dan ejaan yang bagus sekali.
Pikiran si Doel berputar cepat. Beberapa fakta dihubung-hubungkannya. Mulai dari pilihan majalah yang dibaca si
Bapak, jenis-jenis bacaanya yang tersedia di taxi, letaknya yang tersusun rapi, penampilan si Bapak yang terlihat sangat rapi
dan cara berkomunikasi yang terkesan begitu rapi dan tertata. Seperti orang-orang yang pernah mengecap pendidikan tinggi.. ??
Benarkah ?
"Mas,… ini hari terakhir saya menjadi taxi driver. Mungkin mas ini penumpang saya yang terakhir.."
"Lah ? Kenapa pak ? Koq berhenti ? Dapet kerjaan dimana nih ?"
"Alhamdulilah, ada yang nawarin saya pekerjaan yang lain. Insya Allah mulai besok saya udah bertugas di tempat yang
baru."
"Ooooo.."
Si Bapak tersenyum lepas.
Sepertinya, Doel menemukan moment tepat untuk mengungkapkan keinginantahunya. "Rasanya Bapak bukan driver biasa dech
Pak…"
"Kenapa Mas bisa berpikiran begitu ?"
"Hehehe… mohon maaf Pak, saya perhatikan dari tadi ini. Cara Bapak bicara dan menyampaikan cerita-cerita, pilihan
majalah yang Bapak baca sampai ke tatanan kerapian di taxi ini. Kayaknya nggak mungkin kalo latar belakang Bapak cuman driver
taxi biasa saja…"
"Mas ini bisa aja…" sahut Bapak. Lalu ia tertawa kecil.
"Benar dugaan saya Pak … Aziz ?" Untuk pertamakalinya Doel menyadari bahwa ia belum tahu nama si Bapak. Namun
dengan segera ia menemukan nama yang ia cari diatas dashboard taxi.
Pak Aziz kembali tertawa sembari menghembuskan nafas panjang…
"Masa lalu saya lumayan pahit Mas… Dulu saya sempat bekerja di perusahaan export-import. Posisi dan kondisi
finansial saya lebih dari cukup. Namun kesuksesan tak selalu membuat orang lain senang. Semakin tinggi pohon, semakin terasa
kencang terpaan anginnya…" Lalu meluncurlah serangkain kisah hidupnya. Tentang kejatuhan seorang GM sebuah perusahaan
export-import karena terpaan fitnah. Tentang beratnya buntut dari fitnah itu. Tentang keluarganya yang terpaksa mengungsi
dari rumah. Tentang penjualan rumah serta mobil pribadinya untuk biaya hidup dan sekolah anak-anaknya. Tentang beratnya
perjuangan ia selama tiga tahun menjadi driver taxi. Tentang beratnya membuat sang buah hati memahami kondisinya saat ini.
Tentang sedihnya memperoleh cemoohan dan diremehkan….
Hingga akhirnya datanglah rezeki itu, buah dari kesabaran dan keihklasannya menjadi driver taxi.
Dimana pun, sebuah permata tetaplah permata. Sekalipun terselip diantara lumpur pekat ataupun debu pekat jalanan
Jakarta. Hanya butuh seseorang yang paham akan nilainya untuk menemukannya. Dan kemudian, mengangkatnya kedalam sebuah
bingkai yang tepat.
Seorang asing yang kebetulan menumpang taxinya yang berkenalan dengannya. Ia merasa bertarik dengan Pak Azis karena
kejujurannya. Dikala banyak orang lain berusaha mengeruk duit sebanyak-banyaknya karena dia seorang expatriat, Pak Azis
mengulurkan keikhlasannya dengan tulus. Pertemuan demi pertemuan berikutnya membuat kepercayaan sang expatriat kian
kuat.Apalagi background dan pembawaan Pak Azis dapat menjadi modal yang sangat mendukung bisnisnya di Jakarta.
Tibalah hari itu, hari dimana sang expatriat memintanya datang ke kantornya. Hari dimana sang expatriat memintanya
secara profesional untuk sudi membantunya bekerja. Hari dimana berakhirnya perjuangan berat selama tiga tahun belakangan ini.
Dan hari dimana Pak Azis dengan berat hati harus mengatakan selamat tinggal kepada rekan-rekan driver seperjuangannya yang
selama ini setia berbagi dengannya…
*****
Doel memandangi taxi Pak Azis yang kian menjauh… Sebuah mutiara hikmah kini tergenggam di hatinya…..
0 Responses to “Mutiara Debu Jalanan”
Leave a Reply