Archive for April, 2005

17
Apr

Mutiara Debu Jalanan

    Soekarno Hatta ! Akhirnya tiba juga, setelah satu jam lima menit menempuh penerbangan Surabaya-Jakarta. Doel

melangkahkan kakinya keluar pintu pesawat menuju garbarata yang disediakan. Beberapa penumpang pesawat dengan setelan jas

terlihat bergegas, terburu-buru melewatinya. Mungkin mereka eksekutif instansi atau perusahaan yang tengah bertugas. Beberapa

lainnya terlihat santai seolah tidak memiliki jadwal yang mendesak. Sisanya asyik dengan handphone dan barang-barang

bawaannya.

    Doel mencangklong ransel hilfiger kecilnya. Melangkah dengan malas melewati pramugari-pramugari yang berdiri berjejer

sembari tersenyum. Mereka sibuk mengucapkan selamat jalan kepada para penumpang yang melangkah keluar.

    Dari jendela garbarata Doel sempat melirik pesawat yang tadi membawanya, sebuah Boeing 737-400. Model yang sering

dinaikinya bila ia mendapat tugas traveling. Dibelakangnya terlihat pemandangan pesawat diparkir rapi. Ada juga yang tengah

take off. Doel tersenyum tipis memandangnya. Waktu kecil dulu ia pernah punya cita-cita jadi pilot hehehe…

    Melewati beberapa jalur di bandara tersebut, sampailah Doel di bagian terluar bandara. Beberapa taxi tengah parkir

dalam format yang rapi.

    Doel menghampiri salah satunya, sebuah taxi dengan warna biru dengan logo bangau.

    Sang supir terlihat santai didalam. Ia tengah membaca-baca majalah. Sekilas Doel melirik cover depannya, Majalah Swa.

"Keren juga nih Bapak, bacaannya majalah bisnis", nyengir lebar Doel dalam hati.

    "Kosong, Pak ?"

    Si Bapak menutup majalah, mengakhiri bacaannya. Wajah sumringahnya menyapa Doel dengan ramah, "Iya nih Mas..". Ia

lalu keluar dan membukakan pintu untuk Doel.

    Surprise Doel dibuatnya….Namun dengan cuek dia menepiskan rasa ’surprise’ tersebut. Taxi ini terlihat bersih dan

wangi. Beberapa majalah dan koran terlihat diatur rapi ditempatnya. Majalah-majalah dan koran-koran ekonomi, satu-dua

terlihat dalam terbitan mancanegara. Dipojok jendela belakang terlihat beberapa air mineral gelasan teratur pula dengan rapi.

    "Kemana ini, Mas ?"
    "Eh,.." buyar pengamatan Doel..,"Tanah Abang, Pak"

    Dengan anggun taxi tersebut berjalan perlahan keluar bandara.

    "Dari Surabaya nih, Mas ?" Si Bapak mencoba mengakrabkan suasana.
    "Iya,.. biasalah"
    "Wah.. kebetulan saya pernah juga tinggal di Surabaya beberapa lama…" Si Bapak mulai bercerita tentangnya.

    Doel hanya mendengarkan saja. Diam-diam ia sedikit heran dengan apa yang di dengarnya. Cara si Bapak bercerita,

bahasa dan pilihan kata yang digunakan terasa lebih halus dari orang kebanyakan. Beberapa kali terlontar istilah-istilah

dalam bahasa Inggris yang di ucapkan dengan lafal dan ejaan yang bagus sekali.

    Pikiran si Doel berputar cepat. Beberapa fakta dihubung-hubungkannya. Mulai dari pilihan majalah yang dibaca si

Bapak, jenis-jenis bacaanya yang tersedia di taxi, letaknya yang tersusun rapi, penampilan si Bapak yang terlihat sangat rapi

dan cara berkomunikasi yang terkesan begitu rapi dan tertata. Seperti orang-orang yang pernah mengecap pendidikan tinggi.. ??

Benarkah ?

    "Mas,… ini hari terakhir saya menjadi taxi driver. Mungkin mas ini penumpang saya yang terakhir.."
    "Lah ? Kenapa pak ? Koq berhenti ? Dapet kerjaan dimana nih ?"
    "Alhamdulilah, ada yang nawarin saya pekerjaan yang lain. Insya Allah mulai besok saya udah bertugas di tempat yang

baru."
    "Ooooo.."
    Si Bapak tersenyum lepas.
    Sepertinya, Doel menemukan moment tepat untuk mengungkapkan keinginantahunya. "Rasanya Bapak bukan driver biasa dech

Pak…"
    "Kenapa Mas bisa berpikiran begitu ?"
    "Hehehe… mohon maaf Pak, saya perhatikan dari tadi ini. Cara Bapak bicara dan menyampaikan cerita-cerita, pilihan

majalah yang Bapak baca sampai ke tatanan kerapian di taxi ini. Kayaknya nggak mungkin kalo latar belakang Bapak cuman driver

taxi biasa saja…"
    "Mas ini bisa aja…" sahut Bapak. Lalu ia tertawa kecil.
    "Benar dugaan saya Pak … Aziz ?" Untuk pertamakalinya Doel menyadari bahwa ia belum tahu nama si Bapak. Namun

dengan segera ia menemukan nama yang ia cari diatas dashboard taxi.
    Pak Aziz kembali tertawa sembari menghembuskan nafas panjang…
    "Masa lalu saya lumayan pahit Mas… Dulu saya sempat bekerja di perusahaan export-import. Posisi dan kondisi

finansial saya lebih dari cukup. Namun kesuksesan tak selalu membuat orang lain senang. Semakin tinggi pohon, semakin terasa

kencang terpaan anginnya…" Lalu meluncurlah serangkain kisah hidupnya. Tentang kejatuhan seorang GM sebuah perusahaan

export-import karena terpaan fitnah. Tentang beratnya buntut dari fitnah itu. Tentang keluarganya yang terpaksa mengungsi

dari rumah. Tentang penjualan rumah serta mobil pribadinya untuk biaya hidup dan sekolah anak-anaknya. Tentang beratnya

perjuangan ia selama tiga tahun menjadi driver taxi. Tentang beratnya membuat sang buah hati memahami kondisinya saat ini.

Tentang sedihnya memperoleh cemoohan dan diremehkan….

    Hingga akhirnya datanglah rezeki itu, buah dari kesabaran dan keihklasannya menjadi driver taxi.

    Dimana pun, sebuah permata tetaplah permata. Sekalipun terselip diantara lumpur pekat ataupun debu pekat jalanan

Jakarta. Hanya butuh seseorang yang paham akan nilainya untuk menemukannya. Dan kemudian, mengangkatnya kedalam sebuah

bingkai yang tepat.

    Seorang asing yang kebetulan menumpang taxinya yang berkenalan dengannya. Ia merasa bertarik dengan Pak Azis karena

kejujurannya. Dikala banyak orang lain berusaha mengeruk duit sebanyak-banyaknya karena dia seorang expatriat, Pak Azis

mengulurkan keikhlasannya dengan tulus. Pertemuan demi pertemuan berikutnya membuat kepercayaan sang expatriat kian

kuat.Apalagi background dan pembawaan Pak Azis dapat menjadi modal yang sangat mendukung bisnisnya di Jakarta.

    Tibalah hari itu, hari dimana sang expatriat memintanya datang ke kantornya. Hari dimana sang expatriat memintanya

secara profesional untuk sudi membantunya bekerja. Hari dimana berakhirnya perjuangan berat selama tiga tahun belakangan ini.

Dan hari dimana Pak Azis dengan berat hati harus mengatakan selamat tinggal kepada rekan-rekan driver seperjuangannya yang

selama ini setia berbagi dengannya…

    *****

    Doel memandangi taxi Pak Azis yang kian menjauh… Sebuah mutiara hikmah kini tergenggam di hatinya…..

06
Apr

A Morning Scene

Pagi yang dingin dan mendung. Saking dinginnya, secangkir kopi
hangat menjadi candu yang mengobati dinginnya pagi. Dan juga candu yang
membuat kandung kemih semakin aktif bekerja, hehehe… Perasaan pengen
pipis akan semakin mendera, beberapa saat setelah minum kopi hangat.
Begitu juga dengan Va, rekan kerjaku. Setelah beberapa saat puas
meledekku yang bolak-balik kebelet ke toilet, sekarang kena batunya
juga dia,..hihihii…

Terburu-buru Va menuju toilet, hampir bertabrakan dengan seorang ibu-ibu gemuk
perlente yang barusan keluar dari toilet wanita. Seorang wanita karir, sesuatu
yang biasa di gedung ini. Va memperlambat langkahnya.

Hihihi,.. mirip tanteku, batin Va berkata. Sudut matanya sempat mengikuti
langkah "si tante" tersebut. Sebuah scene singkat terekam dalam memorinya.

Si tante melewati seorang cleaning services. Parasnya cukup lamayan. Terlihat
charming dan cerdas. Mungkin pernah mengecap bangku kuliah. Seragam biru muda
yang dikenakannya rapi dan licin, dengan name-tag tertulis "Yayuk". Disaku
celana kanannya terselip sebuah buku. Sekilas ekor mata Va sempat menangkap
tulisan-tulisan kapital di covernya, "Six Sigma…". Sesuatu yang tak biasa bagi
seorang cleaning service biasa. Dia tengah asyik membersihkan lantai dekat
toilet wanita, sebuah rutinitas hariannya. Sesekali terdengar dia bersenandung
halus.

Tiba-tiba si tante berhenti tepat di hadapan Yayuk, gadis cleaning services itu.
Memandang wajahnya lekat-lekat sejenak dan berkata, "Jeng,… kamu ini pinter,
wajahnya lumayan. Masak cuman jadi cleaning service sih ? "

Yayuk tercekat. Sepertinya kaget atas pertanyaan tersebut. Sejenak kemudian, dia
sudah memperoleh kembali kontrol dirinya. Dengan terbata-bata dia menjawab,
"Eh,.. i,..iya. Sedang cari-cari nih…"

Si tante memandang dari atas kebawah dengan dahi sedikit berkerut, lalu tanpa
mengucapkan sepatah kata lagi, ngeloyor meninggalkannya.

Bergegas, Yayuk menuju pintu janitor yang tak jauh dengannya. Masuk dan menutup
pintunya. Mungkin dia melanjutkan kerjaannya yang lain

Va merekam semua kejadian itu dengan beragam kesan tak menentu terhadap si
tante. Dia pun  bergegas menuju kamar kecilnya.

Beberapa saat kemudian Va keluar dari kamar kecil. Tak sengaja, berpapasan
kembali dengan Yayuk, cleaning service yang tadi. Matanya sembab dan sisa isak
tangis yang masih melekat di dirinya. Mungkin ucapan si tante sebelumnya telah
menohok sisi galau batinnya, pikir Va. Atau mungkin dia terpaksa bekerja di
bawah kemampuannya. Mungkin juga dia sebenarnya S1 atau sedikitnya D1 yang
terpaksa bekerja seperti ini. Ah,..ada banyak sekali Yayuk-Yayuk lain di negeri
ini…

Va masygul membayangkan hal ini,…




April 2005
M T W T F S S
    May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930